Senin, 03 Juni 2013

Manajemen Resiko Keuangan


Tujuan utama manajemen risiko keuangan adalah untuk meminimalkan potensi kerugian yang timbul dari perubahan tak terduga dalam harga mata uang, kredit, komoditas, dan ekuitas. Resiko volatilitas harga yang dihadapi ini disebut dengan resiko pasar. Risiko pasar terdapat dalam berbagai bentuk. Meskipun volatilitas harga atau tingkat, akuntan manajemen perlu mempertimbangkan resiko lainnya:
(1) risiko likuiditas, timbul karena tidak semua produk manajemen dapat diperdagangkan secara bebas,
(2) diskontinuitas pasar, mengacu pada risiko bahwa pasar tidak selalu menimbulkan perubahan harga secara bertahap,
(3) risiko kredit, merupakan kemungkinan bahwa pihak lawan dalam kontrak manajemen risiko tidak dapat memenuhi kewajibannya,
(4) risiko regulasi, adalah risiko yang timbul karena pihak otoritas public melarang penggunaan suatu produk keuangan untuk tujuan tertentu,
(5) risiko pajak, merupakan risiko bahwa transaksi lindung nilai tertentu tidak dapat memperoleh perlakuan pajak yang diinginkan, dan
(6) risiko akuntansi, adalah peluang bahwa suatu transaksi lindung nilai tidak dapat dicatat selain bagian dari transaksi yang hendak dilindung nilai.
·        MENGAPA MENGELOLA RISIKO KEUANGAN
Pertama, manajemen eksposur membantu dalam menstabilkan ekspektasi arus kas perusahaan. Manajemen eksposur yang aktif memungkinkan perusahaan untuk berkonsentrasi pada risiko bisnisnya yang utama. Para pemberi saham, karyawan, dan pelanggan juga memperoleh manfaat dari manajemen eksposur. Pemberi pinjaman umumnya memiliki toleransi risiko lebih rendah dibandingkan dengan pemegang saham, sehingga membatasi eksposur perusahaan untuk menyeimbangkan kepentingan pemegang saham dan pemegang obligasi.
·        PERANAN AKUNTANSI
Akuntansi manajemen memainkan peran yang penting dalam proses risiko manajemen. Mereka membantu dalam mengidentifikasikan eksposur pasar, mengkuantifikasi keseimbangan yang terkait dengan strategi respons risiko alternative, mengukur potensi yang dihadapi perusahaan terhadap risiko tertentu, mencatat produk lindung nilai tertentu dan mengevaluasi program lindung nilai.
Kerangka dasar yang bermanfaat untuk mengidentifikasi berbagai jenis risiko market berpotensi dapat disebut sebagai pemetaan risiko. Kerangka ini diawali dengan pengamatan atas hubungan berbagai risiko pasar terhadap pemicu nilai suatu perusahaan dan pesaingnya. Pemicu nilai mengacu pada kondisi keuangan dan pos-pos kinerja operasi keuangan utama yang mempengaruhi nilai suatu perusahaan. Risiko pasar mencakup risiko kurs valuta asing dan suku bunga, serta risiko harga komoditas dan ekuitas. Mata uang Negara sumber pembelian mengalami penurunan nilai relative terhadap mata uang Negara domnestik, maka perubahan ini dapat menyebabkan pesaing domestic mampu menjual dengan harga yang lebih rendah, ini disebut sebagai risiko kompetitif mata uang yang dihadapi. Akuntan manajemen harus memasukkan suatu fungsi demikian probabilitas yang terkait dengan serangkaian hasil keluaran masing-masing pemicu nilai. Peran lain yang dimainkan oleh para akuntan dalam proses manajemen resiko meliputi proses kuantifikasi penyeimbangan yang berkaitan dengan alternative strategi respon risiko. Risiko kurs valuta asing adalah salah satu bentuk risiko yang paling umum dan akan dihadapi oleh perusahaan multinasional. Di dalam dunia kurs mengambang, manajemen risiko mencakup:
(1) antisipasi pergerakan kurs,
(2) pengukuran risiko kurs valuta asing yang dihadapi perusahaan,
(3) perancangan strategi perlindungan yang memadai, dan
(4) pembuatan pengendalian manajemen risiko internal.
Manajer keuangan harus memiliki informasi mengenai kemungkinan arah, waktu, dan magnitude perubahan kurs dan dapat menyusun ukuran-ukuran defensive memadai dengan lebih efisien dan efektif. Potensi terhadap risiko valas timbul apabila perubahan kurs valas juga mengubah nilai aktiva bersih, laba, dan arus kas suatu perusahaan. Pengukuran akuntansi tradisional terhadap potensi risiko valas ini berpusat pada dua jenis potensi risiko: translasi dan transaksi.
Potensi risiko translasi mengukur pengaruh perubahan kurs valas terhadap nilai ekuivalen mata uang domestik atas aktiva dan kewajiban dalam mata uang asing yang dimiliki oleh perusahaan. Karena jumlah dalam mata uang asing umumnya ditranslasikan ke dalam nilai ekuivalen mata uang domestik untuk tujuan pengawasan manajemen atau pelaporan keuangan eksternal, pengaruh translasi itu menimbulkan dampak langsung terhadap laba yang diinginkan. Kelebihan antara aktiva terpapar resiko dengan kewajiban terpapar (yaitu pos-pos dalam mata uang asing yang ditranslasikan berdasarkan kurs kini) menyebabkan timbulnya posisi aktiva terpapar bersih. Posisi ini sering disebut potensi risiko positif. Devaluasi mata uang asing relatif terhadap mata uang pelaporan menimbulkan kerugian translasi. Revaluasi mata uang asing menghasilkan keuntungan translasi. Sebaliknya, jika perusahaan memiliki posisi kewajiban terpapar bersih atau potensi risiko negatif apabila kewajiban terpapar melebihi aktiva terpapar. Dalam kasus ini, devaluasi mata uang asing menyebabkan timbulnya keuntungan translasi. Revalusi mata uang asing menyebabkan kerugian translasi.
Potensi risiko transaksi, berkaitan dengan keuntungan dan kerugian nilai tukar valuta asing yang timbul dari penyelesaian transaksi yang berdenominasi dalam mata uang asing. Keuntungan dan kerugian transaksi memiliki dampak langsung terhadap arus kas. Laporan potensi risiko transaksi berisi pos-pos yang umumnya tidak muncul dalam laporan keuangan konvensional, tetapi menimbulkan keuntungan dan kerugian transaksi seperti kontrak forward mata uang asing, komitmen pembelian dan penjualan masa depan dan sewa guna usaha jangka panjang.

PERLAKUAN AKUNTANSI
FASB menerbitkan FAS No 133, yang diklarifikasi melalui FAS 149 pada bulan April 2003, untuk memberikan pendekatan tunggal yang komprehensif atas akuntansi untuk transaksi derivative dan lindung nilai. Provisi dasar standar ini adalah:
- seluruh instrument derivative dicatat pada neraca sebagai aktiva dan kewajiban,
- keuntungan dan kerugian dari perubahan dalam nilai wajar instrument derivative bukankan aktiva atau kewajiban,
- lindung nilai haruslah sangat efektif agar layak mendapatkan perlakuan akuntansi khusus, yaitu keuntungan atau kerugian atas instrument lindung niai secara tepat harus mengimbangi keuntungan dan kerugian sesuatu yang dilindungi nilai
- hubungan lindung nilai haruslah terdokumentasi secara lengkap demi manfaat pembaca laporan
- keuntungan atau keruhian dari investasi bersih dalam mata uang asing pada awalnya dicatat dalam laba komprehensif lainnya
- keuntungan atau kerugian lindung nilai terhadap arus kas masa depan yang belum pasti, seperti perkiraan penjualan ekspor, pada awalnya diakui sebagai bagian dari laba komprehensif.
Proses pencapaian tujuan tidak lepas dari hambatan atau kendala yang akan menghalangi pencapaian tujuan tersebut. MNC sebagai sebuah perusahaan yang beroperasi di banyak negara harus mampu melimpahkan wewenang kepada manajer anak perusahaan yang ada di luar negeri. Biaya dari kondisi ini dikenal dengan nama agency cost. Agency cost pada perusahaan MNC lebih besar daripada agency cost pada perusahaan domestik. Perbedaan ini dapat terjadi karena beberapa hal seperti, sulitnya memonitor manajer-manajer dari anak-anak perusahaan yang letaknya jauh dari negara asal. Manajer-manajer anak perusahaan luar negeri yang tumbuh dalam budaya yang berbeda mungkin tidak mau mengejar tujuan yang seragam. Besarnya ukuran dari perusahaan multinasional raksasa juga menciptakan agency cost yang besar. Besarnya agency cost bervariasi menurut gaya manajemen suatu perusahaan multinasional. Gaya manajemen terpusat bias mengurangi agency cost karena gaya semacam ini memungkinkan manajer-manajer perusahaan induk untuk mengontrol anak perusahaan di luar negeri, sehingga mengurangi kekuasaan manajer-manajer anak perusahaan. Akan tetapi, manajer-manajer perusahaan induk mungkin tidak sebaik manajer-manajer anak perusahaan karena manajer-manajer perusahaan induk kurang memiliki pengetahuan tentang lingkungan anak perusahaan. Sebaliknya, gaya manajemen terdesentralisasi bias menimbulkan agency cost yang lebih besar jika manajer-manajer anak perusahaan membuat keputusan-keputusan yang tidak dilandasi oleh tujuan memaksimumkan nilai perusahaan induk secara keseluruhan. Gaya manajemen ini memiliki kelebihan lain, yaitu dekatnya manajer-manajer anak perusahaan ke operasi dan lingkungan anak perusahaan.
Adanya untung-rugi dari pemakaian salah satu gaya manajemen di atas, sejumlah perusahaan multinasional berupaya untuk memanfaatkan keunggulan dari kedua gaya manajemen tersebut. Perusahaan induk memperbolehkan manajer-manajer anak perusahaan membuat keputusan-keputusan penting mengenai operasi mereka sendiri, tetapi tetap dimonitor oleh manajemen perusahaan induk untuk menjamin agar keputusan-keputusan tersebut harmonis dengan tujuan perusahaan induk.
Selain agency cost, ada beberapa kendala yang dialami oleh perusahaan MNC seperti, kendala lingkungan, kendala regulatori, dan kendala etika. Kendala lingkungan dapat dilihat dari perbedaan karakteristik tiap negara. Kendala regulatori berupa perbedaan peraturan setiap negara yang ada seperti, pajak, aturan-aturan konversi valuta, serta peraturan-peraturan lain yang dapat mempengaruhi arus kas anak perusahaan. Kendala etika sendiri digambarkan sebagai suatu praktek bisnis yang berbeda-beda di tiap negara.
MNC, dalam melakukan bisnis internasionalnya, secara umum dapat menggunakan metode-metode berikut.
1. Perdagangan internasional
2. Licensing
3. Franchising
4. Usaha patungan
5. Akuisisi perusahaan
6. Pembentukan anak perusahaan baru di luar negeri
Metode-metode bisnis internasional meminta investasi langsung dalam operasi operasinya di luar negeri atau lebih dikenal dengan sebutan Direct Foreign Invesment. Perdagangan internasional dan pemberian lisensi biasanya tidak dianggap sebagai DFI karena keduanya tidak melibatkan investasi langsung dalam operasi di luar negeri. Franchising dan usaha patungan cenderung meminta investasi langsung, tetapi dalam jumlah relatif kecil. Akuisisi dan pendirian anak perusahaan baru merupakan elemen DFI yang paling besar.
Berbagai peluang serta keuntungan sebuah MNC tidak lepas dari risiko yang akan muncul. Walaupun bisnis internasional dapat mengurangi exposure sebuah MNC terhadap kondisi-kondisi ekonomi negara asalnya, bisnis internasional biasanya juga meningkatkan exposure MNC terhadap pergerakan nilai tukar, kondisi ekonomi luar negeri, dan risiko politik. Sebagian besar bisnis internasional meminta pertukaran satu valuta dengan valuta yang lain untuk melakukan pembayaran. Karena nilai tukar terus berfluktuasi, jumlah kas yang dibutuhkan untuk melakukan pembayaran juga tidak pasti. Konsekuensinya, jumlah unit valuta negara asal yang dibutuhkan untuk membayar bisa berubah walaupun pemasoknya tidak mengubah harga. Selain itu, ketika perusahaan multinasional memasuki pasar asing untuk menjual produk, permintaan atas produk tersebut tergantung pada kondisi-kondisi ekonomi dalam pasar tersebut. Jadi, arus kas perusahaan multinasional dipengaruhi oleh kondisi-kondisi ekonomi luar negeri. Risiko potik sendiri muncul pada saat perusahaan multinasional membentuk anak perusahaan di Negara lain, mereka terbuka terhadap risiko politik, yaitu tindakan-tindakan politik yang diambil oleh pemerintah yang dapat mempengaruhi arus kas perusahaan.

Senin, 06 Mei 2013

Analisis Laporan Keuangan DBS Bank


DBS Bank Ltd (星 展 银行 有限公司) adalah bank yang didirikan di Singapura. Sebelumnya dikenal sebagai The Development Bank of Singapore Limited, nama ini diadopsi pada bulan Juli 2003 untuk mencerminkan perubahan perannya sebagai bank daerah. Bank ini didirikan oleh Pemerintah Singapura pada Juni 1968 untuk mengambil alih aktivitas pendanaan industri dari Economic Development Board. Saat ini, cabang-cabangnya berjumlah lebih dari 100 dapat ditemukan di seluruh pulau. DBS Bank merupakan bank dengan aset terbesar di Asia Tenggara dan di antara bank-bank besar di Asia. Bank ini memiliki posisi pasar-dominan dalam konsumen perbankan, perbendaharaan dan pasar, manajemen aset, broker sekuritas, ekuitas dan hutang penggalangan dana di Singapura dan Hong Kong.

Berikut adalah analisis laporan keuangan DBS bank yang meliputi rasio likuiditas, rasio efisiensi, rasio profitabilitas, ROA, ROE, dan NPM yang dibuat berdasarkan laporan keuangan yang dikeluarkan tahun 2010 dan tahun 2011.



Rasio likuiditas

Current ratio ialah kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi.

Current ratio = (aktiva lancar) / (hutang lancar) x 100%

Current ratio 2010 = (238.472) / (210.365) x 100% = 113,36%

Current ratio 2011 = (281.893) / (252.391) x 100% = 111,68%

Analisis :

Adanya penurunan kemampuan membayar utang pada tahun 2011, walau demikian bank DBS singapore masih sanggup membayar hutangnya dalam jangka pendek



Rasio Efisiensi

Best Possible DSO adalah tolok ukur dengan mengabaikan penyimpangan2 yang ada dan hanya memakai angka tagihan (receivables) yang ada pada suatu saat. Dipakai sebagai pengukuran, makin dekat regular DSO pada Best Possible DSO, makin dekat pula tagihan (receivables) pada tingkat yang optimal.

Best Possible DSO mempergunakan 3 informasi untuk perhitungan:
Tagihan yang berjalan (Current Receivables)
Total penjualan kredit dalam periode perhitungan
Jumlah hari dalam periode perhitungan

Rumus:

Regular DSO = (Total Tagihan/Total Penjualan kredit) x Jumlah hari dalam masa Analisa

Regular DSO = (Tagihan penjualan kredit) / (total penjualan) x jumlah hari
Regular DSO 2010 = 647 / 757 x 360 = 307,68 = 10 bulan 25 hari
Regular DSO 2011 = 517 / 587 x 360 = 317,06 = 11 bulan 26 hari

Analisis :

Kemampuan membayar tagihan DBS Bank menurun dari tahun sebelumnya.



Rasio proftabilitas

Net Profit Margin ialah digunakan untuk laba bersih sesudah pajak yang dibandingkan dengan volume penjualan.
NPM = (laba bersih sesudah pajak) / penjualan x 100%

NPM 2010 = 2546 / 757 x 100% = 336,32%

NPM 2011 = 2648 / 587 x 100% = 451.10%

Analisis :

Laba bersih yang dihasilkan DBS Bank mengalami peningkatan cukup besar pada tahun 2011



Return On Equity

Return on Equity ialah mengukur tingkat penghasilan bersih yang diperoleh pemilik perusahaan atas modal yang diinvestasikan.

ROE = (laba bersih sesudah pajak) / (total modal) x 100%

ROE 2010 = 2546 / 7549 x 100% = 33,72%

ROE 2011 = 2648 / 2449 x 100% = 108,12%

Analisis :

Tingkat penghasilan bersih DBS Bank melonjak cukup besar di tahun 2011



Return On Assets (ROA)
Return On Assets (ROA) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan secara keseluruhan. Semakin tinggi ROA berarti semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi pengunaan asset.

ROA= (laba bersih (sebelum pajak)) / (total aktiva) x 100%

ROA 2010 = 2546 / (238,472) x 100% = 1,06%

ROA 2011 = 2648 / (281,893) x 100% = 0,93

Analisis :

Kemampuan manajemen untuk memperoleh keuntunga secara keseluruhan sedikit menurun dari tahun sebelumnya

Senin, 22 April 2013

memahami perbedaan harmonisasi dan standar akuntansi dan Pro dan kontra harmonisasi standar akuntansi internasional

Nama : Ranny purnamasari (20209312)

Kelompok : 4

Bab : 7

Harmonisasi standar akuntansi
Arti harmonisasi standar akuntansi
Istilah harmonisasi sebagai kebalikan dari standardisasi memilki arti sebuah rekonsiliasi atas berbagai sudut pandang yang berbeda. Istilah ini lebih bersifat sebagai pendekatan praktis dan mendamaikan daripada standardisasi, terutama jika standardisasi berarti prosedur-prosedur yang dimiliki oleh satu negara hendaknya diterapkan oleh semua negara yang lain. Harmonisasi menjdai suatu bagian yang penting untuk menghasilkan komunikasi yang lebih baik atas suatu informasi agar dapat diartikan dan dipahami secara internasional.
Definisi dari harmonisasi tersebut dianggap lebih realistis dan memiliki kemungkinan lebih besar untuk diterima daripada standardisasi. Setiap negara asal memiliki kumpulan aturan, filosofi, dan sasarannya masing-masing di tingkat nasional, yang ditujukan pada perlindungan atau pengendalian dari sumber-sumber daya nasional.
Manfaat dari harmonisasi
Terdapat bermacam-macam keuntungan dari harmonisasi. Pertama, bagi banyak negara, belum terdapat suatu standar kodifikasi akuntansi dan audit yang memadai. Standar yang diakui secara internasional tidak hanya akan mengurangi biaya penyiapan untuk negara- negara tersebut melainkan juga memungkinkan mereka untuk dengan seketika menjadi bagian dari arus utama standar akuntansi yang berlaku secara internasional.
Kedua, internasionalisasi yang berkembang dari perekonomian dunia dan meningkatnya saling ketergantungan dari negara-negara di dalam kaitannnya dengan perdagangan dan arus investasi internasional adalah argumentasi yang utama dari adanya suatu bentuk standar akuntansi dan audit yang berlaku secara internasional.
Ketiga, adanya kebutuhan dari perusahaan-perusahaan untuk memperolah modal dari luar, mengingat tidak cukupnya jumlah laba di tahan untuk mendanai proyek-proyek dan pinjaman-pinjaman luar negri yang tersedia, telah meningkatkan kebutuhan akan harmonisasi.
Harmonisasi versus Standardisasi

Globalisasi juga membawa implikasi bahwa hal-hal yang dulunya dianggap merupakan kewenangan dan tanggung jawab tiap negara tidak mungkin lagi tidak dipengaruhi oleh dunia internasional. Demikian juga halnya dengan pelaporan keuangan dan standar akuntansi.
Salah satu karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi adalah dapat diperbandingkan (comparability), termasuk di dalamnya juga informasi akuntansi internasional yang juga harus dapat diperbandingkan mengingat pentingnya hal ini di dunia perdagangan dan investasi internasional. Dalam hal ingin diperoleh full comparability yang berlaku luas secara internasional, diperlukan standardisasi standar akuntansi internasional. Di sisi lain, adanya faktor-faktor tertentu yang khusus di suatu negara, membuat masih diperlukannya standar akuntansi nasional yang berlaku di negara tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam tampilan pembandingan standar akuntansi keuangan di Indonesia dan Amerika Serikat di muka. Dalam Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia terdapat Akuntansi untuk Perkoperasian yang belum tentu dibutuhkan di Amerika Serikat. Berdasarkan hal ini, kecil kemungkinan dan kurang feasible untuk membuat suatu standar akuntansi internasional yang lengkap dan
komprehensif. Konsep yang ternyata lebih populer dibandingkan standardisasi untuk menjembatani berbagai macam standar akuntansi di berbagai negara adalah konsep harmonisasi. Harmonisasi standar akuntansi diartikan sebagai meminimumkan adanya perbedaan standar akuntansi di berbagai negara (Iqbal 1997:35).

Harmonisasi juga bisa diartikan sebagai sekelompok negara yang menyepakati suatu standar akuntansi yang mirip, namun mengharuskan adanya pelaksanaan yang tidak mengikuti standar harus diungkapkan dan direkonsiliasi dengan standar yang disepakati bersama. Lembaga-lembaga yang aktif dalam usaha harmonisasi standar akuntansi ini antara lain adalah IASC (International Accounting Standard Committee), Perserikatan Bangsa-Bangsa dan OECD (Organization for Economic Cooperation and Development). Beberapa pihak yang diuntungkan dengan adanya harmonisasi ini adalah perusahaan-perusahaan multinasional, kantor akuntan internasional, organisasi perdagangan, serta IOSCO (International Organization of Securities Commissions).

Pro dan kontra harmonisasi standar akuntansi internasional

PEMBAHASAN

A. Pengertian Fair Value

a. Nilai wajar (fair value) adalah suatu jumlah yang dapat digunakan sebagai dasar pertukaran aktiva atau penyelesaian kewajiban antara pihak yang paham (knowledgeable) dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm's length transaction). (PSAK no 10).
b. The fair value of an asset is the amount at which that asset could be bought or sold in a current transaction between willing parties, other than in a liquidation. On the other side of the balance sheet, the fair value of a liability is the amount at which that liability could be incurred or settled in a current transaction between willing parties, other than in a liquidation. If available, a quoted market price in an active market is the best evidence of fair value and should be used as the basis for the measurement. If a quoted market price is not available, preparers should make an estimate of fair value using the best information available in the circumstances. In many circumstances, quoted market prices are unavailable. As a result, difficulties occur when making estimates of fair value. (GAAP).
c. Fair value sebagai tingkat harga dimana aset dapat ditukar pada transaksi sekarang di antara pihak-pihak yang mengetahui dan bersedia. Untuk hutang, fair value diartikan sebagai jumlah yang akan dibayarkan untuk mentransfer kewajiban kepada debitor baru. (FASB).
d. A price paid by a buyer who knows the value of what he or she is buying, to a seller who also knows the value of what is being sold, i.e., neither is cheating the other”. Atau “A method of valuing the assets and liabilities of a business based on the amount for which they could be sold to independent parties at the time of valuation family company”. (Dictionary of Accounting)
e. Fair value is defined in terms of a price agreed by a willing buyer and a willing seller in an arm’s length transaction.(International Accounting Standar).

B. Perdebatan Mengenai Fair Value

Fair value ditetapkan oleh International Accounting Standard Board (IASB) sebagai dasar untuk mengukur aset. Dengan diperkenalkannya International Financial Reporting Standard (IFRS) di berbagai belahan dunia, penggunaan metode fair value secara benar menjadi sangat penting. Akan tetapi, jika kekuatan ekonomi terbesar di dunia tidak termasuk di dalamnya (Amerika Serikat), maka tidak dapat benar-benar disebut seluruh dunia. Amerika Serikat tidak mengadopsi IFRS, akan tetapi mereka mempunyai standar akuntansi sendiri yang disusun oleh Financial Accounting Standard Board (FASB). FASB tidak mengakui fair value sebagai dasar untuk mengukur aset, mereka mencatat aset dengan dasar biaya historis (historic cost). Meskipun demikian, FASB dan IASB bekerja sama untuk berusaha mengharmonisasikan standar akuntansi masing-masing. Pertanyaan mengenai bagaimana aset seharusnya diakui di neraca merupakan salah satu isu penting yang harus dicari solusinya. Untuk itu baik IASB maupun FASB melakukan pengujian secara seksama terhadap fair value, tentang arti dari fair value dan bagaimana seharusnya diaplikasikan. Sementara itu FASB secara serentak melakukan investigasi sendiri terhadap fair value dan telah menerbitkan sebuah exposure draft.
Seiring perkembangan zaman, ternyata penggunaan historical cost tidak lagi relevan karena kredibilitas dan kegunaan laporan keuangan telah terhambat oleh tantangan yang serius. Dan banyak orang yang berpendapat dan yakin bahwa standard akuntansi yang menggunakan historical cost memainkan peranan penting sebagai penyebab kerusakan perekonomian, terutama lembaga simpan pinjam tahun 1980an dan masalah perbankan 1990an. Karena pada waktu itu banyak laporan keuangan yang tidak mengungkapkan kerugian segera pada saat terjadi. Sehingga terdapat kesepakatan bahwa standard akuntansi yang ada perlu diperbaiki untuk memastikan bahwa laporan keuangan bermanfaat, relevan, dan terpercaya. Dan dibuatlah laporan keuangan berbasis Fair Value.
Ada banyak diskusi dalam beberapa waktu terakhir mengenai peran akuntansi dalam penurunan ekonomi baru-baru ini. Sejak krisis keuangan dimulai, dan perdebatan tentang akuntansi nilai wajar semakin intensif. Bank-bank dan pihak-pihak lain berpendapat bahwa akuntansi nilai wajar bertanggung jawab atas kelemahan dan ketidakstabilan yang mereka alami, sedangkan akuntan dan pengacara investor berpendapat bahwa kebenaran (fakta tentang aset milik bank-bank) adalah apa yang akhirnya menyebabkan masalah mereka.
Pada tahun 1938, Presiden Franklin D. Roosevelt menghapuskan akuntansi MTM; Milton Friedman menuduh akuntansi MTM sebagai sumber utama yang menyebabkan melemahnya modal yang menyebabkan bank-bank dilikuidasi dalam “Great Depression” (Berry 2008). Pertanyaan berikutnya adalah apakah fair value memainkan peran dalam krisis keuangan baru-baru ini?
Untuk memahami implikasi dari fair value, kita harus mulai dengan pentingnya akuntansi terhadap sistem ekonomi kita. Pusat kapitalisme adalah identifikasi harga dan perhitungan laba rugi. Penilaian paling penting yang dibuat oleh manajer adalah apakan keputusan mereka menghasi paling penting yang dibuat oleh manajer adalah apakan keputusan mereka menghasilkan keuntungan (laba) atau kerugian. Apalagi, investor, kreditor, dan partner bisnis menggunakan data akuntansi untuk membuat keputusan untuk alokasi investasi, memperpanjang kredit, dan mengevaluasi kerja sama.
Menggunakan akuntansi mark-to-market akan berakibat perubahan yang terus-menerus pada laporan keuangan perusahaan ketika nilai aset mengalami kenaikan dan penurunan serta laba dan rugi yang dicatat. Hal ini membuat semakin sulit untuk memastikan apakah laba dan rugi diakibatkan oleh keputusan bisnis yang dibuat manajemen atau oleh perubahan yang terjadi di pasar.
Masalah lain muncul saat akan mengubah nilai aset berdasarkan harga pasar. Siapa yang menentukan harga pasar? Ini mungkin pertanyaan yang mendasar, misalnya bagaimana menentukan harga pasar dari hutang obligasi yang dijamin.
Kubu yang menentang akuntansi berdasarkan nilai pasar menggunakan argumentasi bahwa market value accounting kurang dapat dipercaya dan menjadi halangan utama dalam penerapannya dan kukuh menganggap model historical cost lebih unggul sebab lebih dapat dipercayai (tingkat reliabilitas-nya lebih tinggi). Mereka ngotot bahwa subjectivity estimasi nilai wajar aktiva (fair value asset) dan liabilities tanpa pasar yang likuid membuat laporan keuangan menjadi tidak dapat dipercaya. Tetapi ada juga sebagian orang beranggapan bahwa subjectivity selalu menjadi bagian dari akuntansi dan masalah pengukuran dalam melaporkan informasi keuangannya berdasarkan nilai pasar berhasil diterapkan perusahaan, juga ketika penggabungan usaha dengan metode pembelian. Kemungkinan terbaik estimasi konsep relevan adalah bahwa penggunaan estimasi lebih baik ketimbang menggunakan ukuran yang tidak relevan. Masalah yang selalu ada yang tidak dapat dihindari adalah bahwa model akuntansi berdasarkan historical cost tidak mengakui adanya perubahan nilai bersifat ekonomis,;dan cenderung membiarkan perusahaan memilih sendiri apakah dan kapan mengakui adanya perubahan tersebut. Ini mendorong adanya bias dalam pemilihan apa yang dilaporkan, dan memperburuk kompromi
Akan tetapi, hal yang cukup menarik adalah bahwa angka-angka yang dilaporkan dengan sistem akuntansi berdasarkan nilai pasar mempunyai korelasi sangat kuat dengan harga saham, dan memberi petunjuk bahwa nilai berdasarkan pasar lebih baik (lebih terpercaya) dari pada nilai berdasarkan historical cost seperti di AS. Akan tetapi, meskipun mempunyai keunggulan, sistem market value accounting berpotensi rentan terhadap manipulasi dan kesalahan estimasi, tidak ditemukan bukti yang menunjukkan bahwa angka-angka nilai berdasarkan pasar dikelola untuk menghindari peraturan yang membatasi permodalan. Dapat disimpulkan bahwa, pada akhirnya, penggunaan market value accounting akan memberikan dukungan berharga kepada lembaga-lembaga keuangan.
Arthur Wyatt, Chairman International Accounting Standards Committee pada Accounting Horizon (March 1991) mengemukakan beberapa kelemahan standard akuntansi yang ada selama ini. Dia mengingatkan bahwa mengaitkan investasi dengan pasar adalah bersumber dari perdebatan kalangan akademik yang akhirnya berubah menjadi masalah penting yang harus dipraktekan. Salah satu komentar dari kalangan akademika adalah mengatakan bahwa standard akuntansi yang ada secara artificial dapat menaikkan capital (modal), dan pihak-pihak yang menggunakan market value accounting akan mendorong “artificial volatility” dan menduga bahwa pola pendapatan yang dilaporkan perusahaan yang relatif smooth selama kurang lebih 50 tahun mungkin benar-benar artifisial. Bapak Wyatt menjelaskan bahwa terlalu banyak orang percaya pada angka-angka akuntansi seolah-olah angka tersebut mencerminkan realitas ekonomi, padahal sebenarnya, akibat penggunaan model historical cost, akuntansi semakin menjauh dari kenyataan ekonomi. Beliau mengingatkan dan berkepentingan dengan masalah bahwa akuntansi berdasarkan historical cost, pengakuan kerugian dapat ditunda hampir tanpa batas dan mengemukakan argumentasinya bahwa model historical cost dapat mendorong kebijakan manajemen investasi yang tidak baik, menjual saham yang menguntungkan dan menahan saham yang merugikan.

C. Kebaikan Menggunakan Fair Value
a) Relevance. Banyak orang percaya bahwa standard akuntansi historical cost telah banyak kehilangan relevansinya karena kegagalannya mengukur realitas ekonomi. Hampir semua orang setuju bahwa peristiwa ekonomi---yaitu, kejadian yang mengubah waktu kapan arus kas diterima dan jumlahnya yang akan datang – harus tercermin (terungkap) dalam laporan keuangan lembaga. Akan tetapi, seringkali model historical cost hanya mengukur transaksi sudah selesai dan gagal mengakui adanya perubahan nilai riil lain yang dapat terjadi.
b) Reliability. Masalah yang selalu ada yang tidak dapat dihindari adalah bahwa model akuntansi berdasarkan historical cost tidak mengakui adanya perubahan nilai bersifat ekonomis, dan cenderung membiarkan perusahaan memilih sendiri apakah dan kapan mengakui adanya perubahan tersebut. Ini mendorong adanya bias dalam pemilihan apa yang dilaporkan, dan memperburuk kompromi kenetralan dan dipercayainya informasi keuangan.
D. Keburukan Menggunakan Fair Value
a. Fair value berusaha menyediakan informasi yang transparan dengan menilai aset pada tingkat harga yang dihasilkan jika segera dilikuidasi-sehingga sangat sensitif terhadap pasar.
b. Akuntansi fair value bekerja melalui akuntansi mark-to-market (MTM), yaitu aset dicantumkan pada harga pasar mereka jika diperdagangkan secara terbuka. Menggunakan akuntansi mark-to-market akan berakibat perubahan yang terus-menerus pada laporan keuangan perusahaan ketika nilai aset mengalami kenaikan dan penurunan serta laba dan rugi yang dicatat. Hal ini membuat semakin sulit untuk memastikan apakah laba dan rugi diakibatkan oleh keputusan bisnis yang dibuat manajemen atau oleh perubahan yang terjadi di pasar.
c. Volatility. Lembaga keuangan mengatakan bahwa mereka takut akuntansi berdasarkan pasar akan menyebabkan volatility kinerja lembaga (karena semakin mudahnya nilai item-item aktiva dan pasiva berfluktuasi). Walaupun sebenarnya lembaga keuangan yang senantiasa mengelola bahaya yang mengancam asset dan liability hanya sedikit takut dengan market value accounting. Laporan keuangan lembaga keuangan yang kurang efektif dalam mengelola risiko akan tercermin pada volatility yang selalu ada dalam setiap usahanya. Para investor dan kreditur akan memiliki informasi yang lebih berguna dan relevan dalam membedakan risiko antar perusahaan, ketika mengambil keputusan investasi dan keputusan pemberian kredit (jika menggunakan MVA).

PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat pihak yang mendukung dan menentang fair value. Karena banyak masalah akuntansi yang dapat dipecahkan dengan menggunakan fair value sebagai dasar pengukuran asset dan liability yang diungkapkan dalam laporan keuangan perusahaan karena relevance dan reabilitynya, pengawas lembaga keuangan dari waktu ke waktu secara terus menerus meningkatkan penerapan konsep fair value. Tetapi fair value juga sangat sensitif terhadap pasar sehingga akan semakin sulit untuk memastikan apakah laba dan rugi diakibatkan oleh keputusan bisnis yang dibuat manajemen atau oleh perubahan yang terjadi di pasar, termasuk volatility kinerja lembaga karena semakin mudahnya nilai item-item asset dan liability berfluktuasi.

Referensi
• Magnan, Michel (2009). Fair Value Accounting and the Financial Crisis: Messenger or Contributor?. From: http://www.cirano.qc.ca/pdf/publication/2009s-27.pdf, 17 Mei 2010
• McCullough, Matthew (2009). The Dangers of Fair Value Accounting. From : http://www.scribd.com/doc/19594894/Fair-Value-Accounting, 12 Mei 2010
• Bechara, Michael (2010). Is Fair Value Accounting ..Well….Fair?. From: http://www.scribd.com/doc/26441843/Fair-Value-Accounting#about, 12 Mei 2010
• Siahaan, Hinsa (2009). Implikasi dan Permasalahan dalam Mengimplementasikan Konsep Nilai Wajar Dalam Kondisi Ekonomi Saat Ini. From : http://www.fiskal.depkeu.go.id/webbkf/kajian%5CSeminar%20nasional%20Mark%20to%20Market%20Accounting.pdf, 28 Mei 2010
• Dictionary of Accounting


Senin, 01 April 2013

memodive suatu kendaraan motor



_      dalam hal ini saya membicarakan cara memodivikator kendaran dalam FASHION

FASHION  dalam hal ini kita dapat merubah kendaraan dengan tampak sangat indah yaa itu dengan mulai mengecat kendaraan itu , dalam hal pengecatan bisa di mulai dengan harga 250rbu – 3juta rupiah. . ., biasanya sihh dengan harga 250rbu hanya menggunakan cat yang biasa seperti cat duko , dan kalo harganya yang bisa sampe 3 juta itu menggunakan yang sangat mahal perkalengnya bisa sampe 350-500 rbu rupiah . . ., dan biasanya dengan harga yang sangat tinggi itu pun dapat pengecetan yang sangat teliti dan sangat rapi pula. . . ,selain pengecatan kita pun bisa melakukan pengecrooman , harga pengecrooman kisaran dr 15rbu -2 juta rupiah , tergantung sebanyak apa kita mengecroom kendaraan kita ,dan ada satu hal lagi. . . , kita pun bisa merubah rangka motor itu sendiri dengan imajinasi kita dengan sedikit eksperimen dan sedikit kebranian dalam mengotak atik kendaran kita sndiri . . .

JURNAL AKUNTANSI INTERNASIONAL, AUDIT DAN KINERJA

Jurnal Akuntansi Internasional, Audit dan Kinerja
Evaluasi (IJAAPE)
Call for Papers
Edisi Khusus tentang: "Pelaporan Keuangan, Transparansi dan Corporate
Pemerintahan: Masalah di Pasar Internasional Volatile "
Tamu Editor: Profesor J-L.W. Mitchell Van der Zahn, Curtin University of
Teknologi, Australia
Makalah diundang untuk edisi khusus tentang bagaimana perkembangan tata kelola perusahaan
dalam dekade terakhir telah mengubah wajah pelaporan keuangan perusahaan dan
transparansi. tujuan utama Isu khusus adalah untuk meningkatkan sebuah perdebatan yang sehat
dan dialog tentang dampak reformasi tata kelola perusahaan yang selama dekade
pada praktek pelaporan keuangan perusahaan. Via masalah khusus, lebih mendalam
pemahaman tentang isu-isu kunci topik ini dicari. Mengingat besar
volatilitas di pasar modal internasional, permintaan dan kebutuhan yang memadai
transparansi dan pelaporan keuangan sesuai badan adalah penting. Perusahaan
pendukung tata suara akan dalil mekanisme tata kelola perusahaan
adalah hal yang terpenting dalam mempertahankan yang benar praktek pelaporan keuangan perusahaan,
dengan demikian, membantu dalam mengurangi ketegangan di pasar internasional. Namun, yang lainnya
akan mempertahankan mekanisme tata kelola perusahaan yang mungkin terbatas, jika ada, gunakan.
Tak terhitung tinggi profil internasional skandal akuntansi perusahaan keuangan pada
pergantian milenium banyak diminta regulator nasional dan pasar modal
lembaga untuk memperkenalkan persyaratan baru tata kelola perusahaan untuk meningkatkan
standar. Revisi dan reformasi tambahan sejak telah menimbulkan kompleksitas lebih lanjut
pada pemandangan tata kelola perusahaan di banyak negara. Peningkatan ketidakstabilan
internasional pasar modal sejak akhir 2006 ini menempatkan tuntutan lebih lanjut
praktek tata kelola perusahaan yang sehat dan permintaan untuk meningkatkan keuangan
pelaporan dan transparansi untuk meyakinkan investor saraf.
Tata kelola perusahaan reformis sering menunjukkan bahwa mengubah internasional
ketentuan tata kelola perusahaan akan menyebabkan peningkatan besar dalam perusahaan
praktek akuntansi keuangan. Maka saat itulah perubahan-perubahan ini harus bantuan
mengatasi masalah yang timbul di bangun dari volatilitas pasar modal sekarang. Meskipun
jaminan, tampaknya ada divisi yang cukup besar dalam bisnis populer tekan
dan ilmiah literatur tentang apakah perubahan praktik tata kelola perusahaan
memang memiliki dampak, positif netral atau merugikan pada perusahaan keuangan
praktik akuntansi. Beberapa berpendapat fokus luar biasa pada tata kelola perusahaan
hal telah mendorong manajemen perusahaan jauh dari pengungkapan penuh
rincian keuangan perusahaan yang berkaitan dengan pengambilan keputusan investor.
Selain itu, telah diusulkan di beberapa kalangan terkait dengan pengungkapan
tata kelola perusahaan yang menempatkan beban yang signifikan kepada perusahaan dengan terbatas, jika
apapun, manfaat yang dihasilkan. Akhirnya, meningkatkan pelaporan tata kelola perusahaan
rincian diperkirakan akan mengacaukan proses pelaporan keuangan bukan membantu
dalam meningkatkan transparansi. tanda Pertanyaan muncul, karena itu, pada bagaimana perusahaan
pemerintahan reformasi dan dampaknya terhadap laporan keuangan akan membantu dalam alamat
keprihatinan dengan volatilitas saat ini pasar modal internasional.
Meskipun pentingnya tata kelola perusahaan pada umumnya, dan diyakini
pentingnya dengan pelaporan keuangan perusahaan, penelitian ilmiah tentang dampak
perubahan tata kelola perusahaan selama beberapa dekade pada praktik pelaporan masih
underweighted, khususnya melalui lensa internasional. Ini edisi khusus mencari, di
bagian, untuk menjembatani kesenjangan ini mendorong perdebatan yang lebih besar dan pemahaman tentang
hubungan antara tata kelola perusahaan dan akuntansi keuangan perusahaan.
Makalah di berbagai pendekatan dan / atau yang menggabungkan lainnya
disiplin latar belakang (misalnya, ekonomi, keuangan, manajemen atau sosiologi)
selain dari akuntansi didorong. Sesuai dengan misi IJAAPE,
penelitian yang bersifat ketat dilakukan dan diselesaikan, dan relevan dengan
praktisi, pengguna dan / atau pembuat kebijakan dianjurkan. Sementara kertas dari
alam teoritis dapat disampaikan, kertas yang kuat empiris dan kuantitatif
dasar yang sangat menyambut baik.
Cakupan subjek
Topik yang menarik termasuk, tetapi tidak terbatas pada, pertanyaan-pertanyaan berikut:
• Apakah reformasi tata kelola perusahaan yang mengakibatkan perusahaan keuangan yang lebih baik
pengukuran dan pelaporan, dan / atau meningkatkan kinerja keuangan?
• reformasi tata kelola perusahaan yang memiliki pengaruh paling signifikan
pada mengubah lanskap pelaporan perusahaan keuangan sejak pergantian
milenium?
• Apakah reformasi tata kelola perusahaan yang sama diperkenalkan di beberapa negara
mengarah pada konvergensi atau divergensi di perusahaan keuangan internasional
pelaporan praktik?
• Apakah pengungkapan informasi tata kelola perusahaan untuk melengkapi keseluruhan
perusahaan akuntansi transparansi keuangan? Atau adalah pengungkapan
tata kelola perusahaan yang melengkapi pengungkapan informasi tradisional?
• Apakah pendekatan yang diambil di negara-negara yang berbeda untuk memperkenalkan perusahaan
reformasi pemerintahan menyebabkan perubahan yang berbeda dalam perusahaan keuangan
pelaporan praktik?
• Haruskah tata kelola perusahaan yang menjadi kekuatan pendorong dari perusahaan finansial
transparansi akuntansi? Atau tata kelola perusahaan yang mendasar
komponen transparansi akuntansi perusahaan keuangan?
• Apakah ada negara (atau daerah) menentukan patokan standar untuk
pengungkapan informasi tata kelola perusahaan?
• Apa mekanisme yang sedang digunakan oleh perusahaan untuk menyebarkan
informasi tentang praktik korporasi entitas pemerintahan dan
standar?
• Berapa sebanding adalah pelaporan informasi tata kelola perusahaan
melintasi batas-batas akuntansi internasional?
• kode praktek tata kelola perusahaan - adalah mereka suatu bantuan atau
hambatan dalam meningkatkan transparansi keuangan dan akuntansi perusahaan
pelaporan praktik?
• Upaya / bergerak ke arah prinsip akuntansi yang berbasis di bawah baru
rezim tata kelola perusahaan yang lebih efektif dalam meningkatkan perusahaan
pelaporan keuangan?
• Apakah perbedaan terus-menerus dalam US GAAP dan IFRS mengurangi manfaat
reformasi tata kelola perusahaan dalam meningkatkan pelaporan keuangan perusahaan
praktek internasional?
• Memiliki reformasi untuk komite audit telah efektif dalam meningkatkan finansial
praktek pelaporan dan transparansi?
• Apakah dewan direksi semakin bertanggung jawab untuk perubahan
transparansi? Atau sub-komite papan kunci yang memiliki dampak yang besar?
• Apakah peningkatan kualitas internal dan / atau eksternal auditor
berpengaruh dalam menentukan perubahan dalam pelaporan keuangan perusahaan dan
transparansi?
• Apa fitur dari auditor internal dan eksternal telah membawa pada
perusahaan laporan keuangan dan transparansi?
Catatan untuk Calon Penulis
Dikirimkan kertas seharusnya tidak sebelumnya akan diterbitkan maupun saat ini
sedang dipertimbangkan untuk diterbitkan di tempat lain
Semua makalah yang naskahnya melalui proses peer review. Panduan untuk penulis,
sampel salinan dan informasi relevan lainnya untuk menyerahkan surat-surat yang tersedia
tentang Pedoman Author halaman
Tanggal Penting
Batas waktu untuk Submission: 31 Oktober 2008
Editor dan Catatan
Anda dapat mengirim satu salinan dalam bentuk MS Word file dilampirkan ke e-mail
(Rincian dalam Pengarang Pedoman), dengan Subject "Edisi Khusus", sebagai berikut:
Profesor J-L.W. Mitchell Van der Zahn
Sekolah Akuntansi
Curtin Business School
Curtin University of Technology
Perth
Australia
Email: Mitchell.VanderZahn @ cbs.curtin.edu.au
dengan tembusan kepada:
Profesor P.L. Joshi, Editor-in-Chief, IJAAPE
Email: joshi@buss.uob.bh
dan
Editorial IEL Kantor
E-mail: ijaape@inderscience.com
Harap sertakan dalam pengajuan Anda judul dari Edisi Khusus, judul
Jurnal dan nama Editor Tamu

BAB 5 Pengungkapan dan Pelaporan Akuntansi


Jelaskan secara singkat perbedaan antara pengukran akuntansi dan pengungkapan akuntansi. Dari dua proses akuntansi ini, manakah yang menurut anda akan menunjukkan kemajuan inovatif yang besar selama 10 tahun mendatang? Mengapa ?
jawab:
Pengukuran akuntasi : Pengukuran hanya sebatas informasi murni yang belum di olah menjadi informasi yang siap di gunakan.
Pengungkapan akutansi : Standard dan praktik pengungkapan dipengaruhi oleh sumber-sumber keuangan, sistem hukum, ikatan politik dan ekonomi, tingkat pembangunan ekonomi, tingkat pendidikan, budaya dan pengaruh lainnya.
Yang menunjukkan kemajuan inovatif yang besar selama 10 tahun mendatang adalah pengungkapan akuntansi, karena meskipun praktik pegungkapan sangat berbeda-beda di setiap Negara, tetapi sekarang perlahan mulai timbul kemiripan (konvergensi) dengan secara sukarela mengadopsi standar pelaporan keuangan internasioal (IFRS) atau GAAP Amerika serikat, mematuhi ketentuan pasar bursa efek dan badan regulator domestic dan luar negeri memberikan respon terhadap berbagai permintaan informasi yang diajukan para investor dan analis.
2. Mengapa perusahaan multinasional terlihat semakin bertanggung jawab kepada konstituennya, dan bukannya kelompok investor tradisional?
Jawab :
Karena perusahaan multinasional pada umumnya pengungkapan akuntansinya didorong oleh perbedaan dalam tata kelola perusahaan dan keuangan. Contoh di amerika serikat, inggris dan Negara-negara anglo amerika lainnya, pasar ekuitas menyediakan kebanyakan pendanaan yang dibutuhkan perusahaan sehingga menjadi sangat maju. Di pasar-pasar tersebut, kepemilikan cenderung tersebar luas diantara banyak pemegang saham dan perlindungan terhadap investor sangat ditekankan. Sedangkan dikebanyakan Negara-negara lain, keemilikan saham masih tetap sangat terkonsentrasi dan bank secara tradisional menjadi sumber utama pembayaran perusahaan.
3. Haruskah perusahaan asing yang bermaksud menerbitkan surat berharga di amerika serikat diwajibkan untuk melakukan pengungkapan sebanyak yang dilakukan oleh perusahaan Amerika Serikat yang menerbitkan surat berharga di amerika serikat? Lakukanlah evaluasi yang kritis terhadap argument-argumen yang disajikan dalam bab ini ..
Jawab :
Ya, diharuskan karena bursa efek dan badan regulator pemerintah umumnya mengharuskan perusahaan asing yang mencatat saham untuk memberikan informasi keuangan dan non keuangan yang sama dengan yang diharuskan kepada perusahaan domestic. Perusahaan asing yang sahamnya tercatat pada suatu bursa efek umumnya memiliki fleksibilitas dalam prinsip akuntansi yang digunakan dan ruang lingkup pengungkapan. Dikebanyakan Negara, perusahaan asing yang tercatat sahamnya harus menyerahkan kepada bursa efek setiap informasi yang di umumkan, yang dibagkan kepada para pemegang saham atau yang dilaporkan kepada badan regulator di pasar domestic. Namun demikian, kebanyakan Negara tidak mengawasi atau menegakkan pelaksanaan ketentuan kesesuaian pengungkapan antar wilayah (yuridiksi).
4. Aturan akuntansi di jepang, prancis dan jerman sekarang telah mewajibkan pengungkapan hasil keuangan segmen usaha. Namun demikian, para manajer di negara-negara ini secara tradisional menentang pengungkapan informasi segmen yang detail. Mengapa para manajer ini memilih untuk mengungkapan sedikit informasi mengenai segmen usaha perusahaanya dan mengapa aturan akuntansi menjadi semakin ketat terlepas dari penolakan manajer ini?
Jawab :
Para manajer memilih untuk mengungkapkan sedikit informasi mengenai segmen usaha perusahaannya dikarenakan demi melindungi manajemen yang berkuasa, kepemilikan yang terkonsentrasi pemilik keluarga yang merupakan secara tradisional sumber utama.
Aturan akuntansi yang menjadi semakin ketat setelah penolakan manajemen merupakan pengungkapan sebagai pengendalian manajemen, meminimalkan resiko didalam kegiatan perusahaan
5. Apa saja perbedaan antara pengungkapan sukarela dan pengungkapan wajib ? berikanlah setidaknya dua penjelasan mengenai perbedaan praktik pengungkapan sukarela yang dilakukan oleh para manajer. Berikanlah pula setidaknya dua penjelasan mengenai perbedaan praktik pengungkapan waib yang dilakukan oleh para manajer.
Jawab :
Perbedaan antara pengungkapan wajib dan sukarela :
• Sukarela :
a. Investor di seluruh dunia menuntut informasi yang lebih detail dan lbih tepat waktu, tingkat pengungkapan sukarela semakin meningkat, baik di Negara-negara dengan pasar yang sudah maju maupun yang sdan berkembang.
b. Dalam laporan terakhir Badan Standar Akuntansu keuangan (FASB) menjelaskan sebuah proyek FASB mengenai pelaporan bisnis yang mendukung pandangan bahw perusahaan akan mendapatkan manfaat pasar modal dengan meningkatkan pengungkapan sukarelanya.
c. Manajer memiliki informasi mengenai kinerja perusahaan sat ini pada masa mendatang yang lebih baik bila dibandingkan dengan pihak eksternal.
d. Bukti-bukti kuat mnunjukkan bahwa manajer perusahaan sering memiliki dorongan kut untuk menunda pengungkapan berita negative, mengelola laporan keuangan untuk lebih menunjukkan wajah positif perusahaan dan menlai lebih kinerja dan prospek keuangan perusahaanya.
• Wajib ;
a. Perlindungan terhadap pemegang saham atau investor berbeda dari satu Negara ke Negara lain.
b. Pada umumnya bursa efek dan badan regulator pemerintah mengharuskan perusahaan asing yang mencatatkan saham untuk memberikan informasi keuangan dan non keuangan yang sama dengan yang diharuskan kepada perusahaan domestic.
c. Investor yang memiliki informasi yang cukup untuk mengevaluasi kinerja dan prospek sebuah perusahaan. Tempat yang terbukti atas hal ini adalah AS, yang standar pengungkapannya secara umum dipandang paling ketat di dunia.
d. Perlindungan pemengang saham di AS itu sangat ketat, sedangkan perlindungan pemegang saham di negra-negara lain kurang mendapat perhatian. Contohnya cina melarng insider traiding ( perdagangan yang melibatkan klangan dalam) sedangkan penegakan hokum yang lemah membuat penegakan aturan itu hampir tidak ada.
6. Apa yang dimaksud dengan pelaporan tiga baris bawah (triple Buttom-line reporting) dan mengapa pelaporan ini menjadi trend yang makin berkembang dikalangan perusahaan multinasional yang besar? Saat ini terdapat beberapa ketentuan apabila melakukan pelaporan jenis ini. Apakah pengaturan lebih banyak diperlukan? Mengapa?
Jawab :
Pelaporan tiga baris bawah (triple buttom line reporting) adalah laporan ketahanan yang mengintegrasikan kinerja ekonomi, social dan lingkungan.
Pelaporan tanggungjawab social semakin menjadi tren utama dikalangan perusahaan multinasional, hal ini menunjukkan bahwa jumlah perusahaan yang menerbitkan laporan lingkungan hidup, social atau ketahanan, selain laporan keuangan tahunan semakin bertambah
Ya, karena untuk menyeragamkan pelaporan di antar Negara satu dengan Negara lain dengan standar IFRS.
7. Apakah menerut anda pengungkapan sukarela oleh perusahaan-perusahaan dinegara pasar berkembang lebih banyak atau lebih sedikit bila dibandingkan dengan di negara maju? Mengapa?
Jawab :
Menurut kami pengungkapn sukarela oleh perusahaan-perusahaan di negara maju lebih banyak karena investor diseluruh dunia menuntut informasi yang lebih detail dan lebih tepat waktu, tingkat pengungkapan sukarela semakin meningkat
8. Apakah menurut anda pengungkapan wajib oleh perusahaan-perusahaan dinegara pasar berkembang lebih banyak atau lebih sedikit bila dibandingkan dengan di negara maju? Mengapa?
Jawab :
Menurut kami pengungkapan wajib oleh perusahaan-perusahaan di negara berkembang itu banyak, tetapi masih terbilang sangat dasar bagi Negara berkembang. Karena belum menyeragamkan standar IFRS di semua negara. Sedangkan bagi perusahaan-perusahaan maju pengungkapan wajib itu di haruskan seperti amerika serukat yang memiliki standar pengungkapannya secara umum di pandang paling ketat di dunia.
9. Apakah dua tujuan besar untuk pasar berorientasi investor? Manakah dari tujuan ini yang menurut anda paling penting ? berikan alasan untuk jawaban anda?
Jawab :
Dua tujuan utama untuk pasar berorientasi investor yaitu investor dapat menerima informasi yang material tepat pada waktunya dan dapat dilindungi melalui pengawasan dan penegakan aturan yang efektif. Menurut saya tujuan yang paling penting yaitu perlindungan investor melalui pengawasan dan penegakan aturan yang efektif, karena dengan adanya pengawasan dan penegakan aturan dapat menghindari terjadinya tindakan criminal dalam hal pengungkapan informasi yang ditujukan kepad investor, hal ini bertujuan untuk meningkatkan keyakinan investor, yang akan meningkatkan likuiditas, mengurangi biaya transaksi, dan meningkatkan kualitas pasar secara keseluruhan.
10. Dari perspektif sebuah regulator pasar surat berharga, apakah lebih banyak pengungkapan yang diminta selalu lebih baik daripada lebih sedikit pengungkapan ?Mengapa?
Jawab :
Tingkat pengungkapan yang rendah di negara-negara pasar berkembang tersebut konsisten dengan sistem tata kelola perusahaan dan keuangan di negara-negara itu. Pasar ekuitas tidak terlalu berkembang, bank dan pihak internal seperti kelompok keluarga menyalurkan kebanyakan kebutuhan pendanaa dan secara umum tidak terlalu banyak adanya kebutuhan akan pengungkapan publik yang kredibel dan tepat waktu, bila dibandingkan dengan perekonomian yang lebih maju. Namun demikian, permintaan investor atas informasi mengenai perusahaan yang tepat waktu dan kredibel di Negara-negara pasar berkembang semakin banyak regulator memberikan respons terhadap permintaan ini dengan membuat ketentuan pengungkapan yang lebih ketat dan meningkatkan upaya-upaya pengawasan dan penegakan aturan.
11. menurut anda, mengapa laporan tahunan di prancis dan jerman lebih banyak berisi peramalan laba dan penjualan, bila dibandingkan dengan laporan tahunan inggris dan AS?
Jawab :
Laporan tahunan di perancis dan jerman lebih banyak berisi peramalan laba dan penjualan di karenakan merupakan negara pasar berkembang dimana kepemilikan saham masih tetap sangat terkonsentrasi dan bank menjadi sumber utama pembiayaan perusahaan.
Sedangkan pada laporan tahunan inggris dan AS lebih cenderung dalam menyediakan pendanaan yang dibutuhkan perusahaan.
12. Apakah yang dimaksud dengan tata kelola perusahaan ? perusahaan yang sahamnya tercatat di beberapa Negara diwajibkan mengungkapkan informasi mengenai praktik tata kelola perusahaan yang dijalankan. Mengapa investor dan para analis berpendapt bahwa informasi ini bermanfaat bagi mereka?
Jawab :
Tata kelola perusahaan adalah rangkaian proses, kebiasaan, kebijakan, aturan, dan institusi yang memengaruhi pengarahan, pengelolaan, serta pengontrolan suatu perusahaan atau korporasi. Tata kelola perusahaan juga mencakup hubungan antara para pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat serta tujuan pengelolaan perusahaan. Informasi dari laporan keuangan perusahaan sangat bermanfaat bagi investor dan manajemen untuk melakukan ramalan laba dan mengukur kinerja keuangan perusahaan.Kketepatan ramalan laba untuk masing-masing pasar modal dan masing-masing negara berbeda-beda, dan itu dipengaruhi oleh faktor faktor yang berbeda pula diantaranya interval waktu peramalan, besaran perusahaan, umur perusahaan, penjamin emisi, auditor, leverage, premium saham.